4 Feb 2012

Perbincangan Orang Singapura Tentang Kekayaan Indonesia

Seorang member group Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB di facebook memposting sebuah hasil perbincangan antara orang Indonesia dengan orang Singapura di Australia.
Ini Kisahnya: suatu pagi, kami menjemput seseorangg klien di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Si Bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya Melayu & English, beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda.
Beliau berkata,”Ur country is so rich!” Ah biasa banget denger kata-kata itu.
Tapi tunggu dulu.”Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,”lanjutnya.
“Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”
“Mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli orang-orang Indonesia, gak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, orang Indonesia semua yang berobat. Terus, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener-benar panik. Sangat terasa,we are nothing. Kalian tahu ‘kan kalau Agustus kemarin dunia krisis beras, termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras. Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana, lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia.
Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata.Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3 ribu/kg ke pabrik China, si pabrik jual kembali seharga Rp 30 ribu/kg. Saya lihat ini sebagai peluang. Kalian sadar tidak, kalau negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI.
Belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor kalau bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!
Kisah nyata ini bisa dibagikan kepada seluruh anak bangsa agar menyadari kekayaan alam negeri tercinta. Semoga para elit kekuasaan dapat terketuk hatinya agar mengelola negeri dengan cara yang benar agar Indonesia tidak terjerumus menjadi Failure State.

PANDUAN SHALAT ISTIKHARAH

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.
Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)
Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 68-70)
Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.”[1]
Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]
Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh
Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”[3]
Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh
Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.”  Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ « لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »
“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.”[4]
Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.” Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]
Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.”[7]
Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.” Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.”[9]
Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri.  Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.
Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An Nur: 32)
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.”[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.
Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.
Bahkan ada keterangan lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]
Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,
إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى
“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”[12]
Kelima: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ …
“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika …”[13]
Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. ”[14]
Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
““Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu”. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]
Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]
Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.
Tata Cara Istikhoroh
Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.
Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).
Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.
[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]
Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.
Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

[1] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan). [2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah
[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.
[5] Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.
[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).
[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.
[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.
[9] Idem
[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.
[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Du’aa, hal. 167-168.
[12] HR. Muslim no. 1333
[13] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 168-169.
[14] Fiqhud Du’aa, hal. 169.
[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).
[16] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 169.
[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.
[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).
Advertisement

[Kdrama] The Moon that Embraces The Sun (Sinopsis and OST)

• Judul drama : The Moon that Embraces The Sun / The Sun and The Moon
• Hangul : 해를 품은 달 (Haereul Poomeun Dal)
• Director : Kim Do Hoon
• Skenario : Jung Eun-Gwol
• Stasiun TV : MBC
• Total Episode : 20
• Jadwal mulai : 4 Januari 2012
• Jadwal tayang : Rabu & Kamis. Jam: 21:55
• Bahasa : Korea
• Negara : Korea Selatan

Cast:


Sinopsis

Tidak ada 2 matahari dan 2 bulan di langit Joseon, hanya ada 1 matahari dan 1 bulan agar seimbang…
Lee Hwon adalah putra mahkota yang sangat ceria, semua yang dia inginkan selalu dipenuhi oleh sang raja. Hwon mempunyai seorang kakak (1 ayah beda ibu) bernama Yang Myung yang sangat sopan, baik hati dan berjiwa bebas. Walaupun keduanya sama-sama anak seorang raja namun perlakuan yang diterima keduanya sangat berbeda, karena Pangeran Yang Myung adalah anak seorang selir sedangkan Hwon adalah anak ratu jadi kepentingan Lee Hwon lah di atas segala-galanya itulah yang membuat Yang Myung selalu mengalah dan memendam rasa iri kepada sang adik. Pangeran Yang Myung harus tinggal di luar istana dan tidak diperbolehkan belajar di akademi kerajaan walaupun sebenarnya ia sangat pintar (hal ini dilakukan agar Pangeran Yang Myung tidak mengancam posisi Lee Hwon sebagai penerus tahta). Pangeran Yang Myung mempunyai 2 orang sahabat dekat yaitu Heo Yeom (kakak Yeon Woo) dan Woon (akhirnya menjadi pengawal setia Hwon).
Hwon dan Yang Myung jatuh cinta kepada putri bangsawan bernama Heo Yeon Woo. Konflik bermula dari ujian pemilihan untuk menjadi Putri Mahkota, dan Yeon Woo adalah kandidat terkuat karena sang putra mahkota Hwon sangat menyukainya. Pangeran Yang Myung pun meminta sang Raja agar ia bisa menikah dengan Heo Yeon Woo namun apa daya akhirnya Yeon Woo terpilih sebagai calon putri mahkota dan menjalani pelajaran di istana. Ibu Suri Yoon yang mempercayai penglihatan seorang cenayang istana yang mengatakan bahwa Yoon Bo Kyung (Putri menteri Yoon yang merupakan keponakan Ibu Suri Yoon) yang akan menjadi seorang ratu maka Ibu Suri memilih Yoon Bo Kyung untuk menjadi ratu dan menyingkirkan Yeon Woo untuk selamanya. Putri Minhwa (adik Lee Hwon) ikut dilibatkan oleh Ibu Suri dalam pembunuhan Yeon Woo karena jika Yeon Woo menikah dengan Hwon maka Minhwa tidak bisa menikah dengan orang yang ia sukai yaitu Heo Yeom.
Usaha Ibu Suri untuk membunuh Yeon Woo tidak berhasil dan Yeon Woo diselamatkan oleh seorang cenayang yang bernama Jang Nok Young. Dia akhirnya dibesarkan oleh cenayang tersebut dengan identitas dan nama baru yaitu Wol, dan dia ikut menjadi seorang cenayang juga.
Setelah Yeon Woo ‘pergi’ ternyata membawa banyak perubahan besar bagi orang-orang yang mencintainya.
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ?? Silahkan menonton sendiri atau membaca recapnya….
Drama dengan judul “The Moon that Embraces The Sun” bergenre fantasi, dengan latar seperti drama saeguk (kolosal) bercerita tentang kisah cinta seorang raja Lee Hwon dan seorang cenayang bernama Wol. Selama episode-episode awal drama ini meraih rating tertinggi saat penayangannya (mencapai 20an%) padahal masih menceritakan kehidupan para pemain saat masih kecil loh. Ide cerita yang bagus dan akting memukau bintang-bintang muda seperti Yeo Jin Goo, Kim Yo Jung, Lee Min Ho sanggup menarik perhatian penonton sehingga membuat drama ini banyak ditonton bahkan sampai para pemeran dewasa muncul rating drama ini terus meroket.
Karena rating drama ini yang terus menanjak tiap penayangannya maka di rencanakan adanya episode tambahan.

RECAP DRAMA

The Moon Embracing The Sun Episode 1
The Moon Embracing The Sun Episode 2
The Moon Embracing The Sun Episode 3
The Moon Embracing The Sun Episode 4
The Moon Embracing The Sun Episode 5
The Moon Embracing The Sun Episode 6
The Moon Embracing The Sun Episode 7
The Moon Embracing The Sun Episode 8
The Moon Embracing The Sun Episode 9
The Moon Embracing The Sun Episode 10
The Moon Embracing The Sun Episode 11
The Moon Embracing The Sun Episode 12
The Moon Embracing The Sun Episode 13
The Moon Embracing The Sun Episode 14
The Moon Embracing The Sun Episode 15
The Moon Embracing The Sun Episode 16
The Moon Embracing The Sun Episode 17
The Moon Embracing The Sun Episode 18
The Moon Embracing The Sun Episode 19
The Moon Embracing The Sun Episode 20

Download OST

OST Part 1
OST Part 2
OST Part 3
update soon
Oh ya drama ini diangkat dari novel loh (penulisnya juga yang menulis novel Sungkyunkwan Scandal), kalau mau baca novelnya silahkan meng-klik untuk versi Bahasa Indonesia dan Versi Bahasa Inggris. Kalau mau ingin lebih mengenal karakter pemain The Moon dan The Sun silahkan klik ini , ini dan ini. Dan kalo mau download dramanya silahkan ikuti petunjuk ini. Kalo mau tau mengenai update terbaru tentang TMETS langsung mampir aja ke facebook-nya.
Credit: berbagai sumber dari blog para Kdrama lover.. thx so much guys!
Bulan yang memeluk matahari. Aku adalah matahari dan kau adalah bulan. Dalam hatiku kau adalah istriku satu-satunya.
Lee Hwon to Heo Yeon Woo (TMETS Ep.5)
Notes:
Warning!!! Review ini mengandung spoiler. Silahkan di skip aja. Hehehehehehe :D
Ahh i love it. Aku suka banged ama drama ini. Komposisi pemilihan castnya pas dan ceritanya bagus. Menurutku drama ini akan di penuhi lika-liku kisah Hwon-Wol, walaupun konflik politiknya pasti ada.
Karena penulis novel ini sama dengan yang menulis novel Sungkyunkwan Scandal, coba perhatiin lagi deh kalo karakter 3 sahabat, Yeom, Myung dan Woon sama seperti karakter “F4 Joseon” Lee Sun Joon, Gu Yong Ha dan Moon Jae Shin. Yeom yang sangat berwibawa, penuh pesona dan pintar di bidang akademik sekaligus seorang anak bangsawan persis seperti Lee Sun Joon. Pangeran Yang Myung yang tumbuh sebagai pria flamboyan sama seperti Gu Yongha. Woon yang ahli beladiri, tidak banyak bicara, dingin dan misterius menyerupai karakter “Geul-oh” Moon Jae Shin.
Dan pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa pemeran Yeon Woo/Wol harus Han Ga In (terlalu old jika bersanding dengan Soo Hyun) dan pemeran Lee Hwon harus Kim Soo Hyun (wajahnya terlalu muda jika harus menjadi raja). Aku juga sempat bertanya-tanya dan saat aku blog-walking aku menemukan artikel tentang ini. Wol berperan sebagai seorang cenayang dimana ia harus menjadi “jimat” manusia yang menyerap energi negatif seseorang karena tugas berat itulah yang mungkin membuat wajah Wol sedikit lebih tua daripada umurnya (umur Wol lebih muda 2 tahun daripada Hwon), itulah mengapa menurutku Han Ga In dipilih, lagipula pas nonton dramanya karakter Yeon Woo/Wol yang pintar, ceria, polos dan misterius bisa diperankan dengan baik oleh Han Ga In. Sedangkan kenapa Kim Soo Hyun terpilih sebagai raja karena di novelnya diceritakan kalo wajah Lee Hwon terlihat lebih muda daripada umurnya itulah yang membuat hidup Hwon masih harus diatur oleh Ibu Suri (semua kebijakan yang di buat Hwon merupakan campur tangan Ibu Suri). Jadi menurutku pemilihan cast-nya pas (Walopun sempat kecewa dengan Yeom dewasa yang terlalu old, padahal waktu kecil dan remajanya diperankan oleh pria2 imut).
Konflik cinta dalam drama ini unik, Yeon Woo adalah cinta pertama Hwon dan sudah di anggap seperti istri oleh Hwon namun karena “meninggalnya” Yeon Woo, Hwon harus mengikuti permainan Ibu Suri dengan menikahi Yoon Bo Kyung. Sedangkan pangeran Yang Myung yang sudah sejak lama mencintai Yeon Woo harus bisa menahan diri saat Yeon Woo terpilih sebagai calon Putri Mahkota. Setelah Yeon Woo “meninggal” Yang Myung bahkan bersumpah di kehidupan berikutnya dia tidak akan melepaskan Yeon Woo lagi. Hwon yang telah menikah dengan Bo Kyung tidak pernah merasa bahwa ia telah menikah. Yupp Bo Kyung itu cuman dianggap sebagai ratu pendamping raja, bukan ratu pemilik hati raja. Bo Kyung sendiri kewalahan menarik simpati raja. Saat Hwon dan Yang Myung bertemu Wol mereka merasa seperti mengenal Wol dan berusaha untuk mengenal lebih jauh lagi siapa sosok Wol, keduanya pun kembali jatuh cinta dengan wanita yang sama yaitu Wol. Dan bagaimana jika mereka tahu bahwa Wol adalah Yeon Woo yang sangat mereka cintai dan tidak bisa mereka lupakan sedetikpun??
Putri Minhwa yang sangat menyukai Yeom akhirnya bisa menikah dengan Yeom. Pangeran Yang Myung sangat menyayangkan pernikahan ini karena Yeom yang pintar hidupnya harus berakhir sebagai menantu kerajaan (menantu kerajaan tidak boleh berkecimpung di kursi pemerintahan). Yang Myung beranggapan bahwa Minhwa mengubur cita-cita Yeom yang ingin bekerja di pemerintahan, dan dengan kepintarannya bisa berguna dalam mendampingi raja. Yeom sendiri beranggapan bahwa berkat menikahi Minhwa, nama keluarganya bisa dipulihkan kembali sejak kasus “meninggal” Yeon Woo. Dan apa jadinya jika Yeom mengetahui bahwa Minhwa ikut terlibat dalam kasus pembunuhan adik kesayangannya ??
Seol, Seorang pelayan setia Yeon Woo yang pada akhirnya menjadi pengawal pribadi Yeon Woo memendam perasaan pada Yeom, Seol hanya bisa melihat Yeom secara diam-diam, saat dewasa pun Seol sering mengawasi Yeom dari jauh. Yeom juga pernah mengatakan pada Seol, agar terus menjaga Yeon Woo. Makanya sampai akhir Seol tetap berada di sisi Yeon Woo/Wol. Yeom sendiri sepertinya menaruh perhatian pada Seol, walaupun Seol adalah budak tapi dia bisa membaca dan menulis. Namun sejak “kepergian” Yeon Woo, Seol pun ikut hilang. Yeom pun pernah menyangka bahwa Seol menyukai Woon, karena Seol sering kepergok mengintip saat Yeom sedang bersama Woon dan Seol juga sering berlatih pedang kayu (Yeom pikir Seol berlatih pedang karena Woon adalah ahli beladiri). Dan di novelnya di ceritakan kalo Woon pun tertarik pada sosok Wol yang sangat mempesona dan misterius.
Cerita ini makin ribet karena Ibu Suri dan Yoon Dae Hyung yang bernapsu dengan kekuasaan menginginkan kelahiran putra mahkota untuk memperkuat posisi mereka. Mereka berusaha keras mencari cara agar Hwon bisa tidur bersama Bo Kyung. Belum lagi dengan usaha Jang Nok Young untuk melindungi Wol dari bahaya demi memenuhi janjinya dengan A-ri dan menjauhkannya dari matahari bahkan ia sampai mengubah identitas Yeon Woo menjadi Wol, namun Jang Nok Young tidak bisa menghindari takdir jika suatu saat matahari (Hwon) membutuhkan pelindungnya (Yeon Woo) untuk terus berada di sisi matahari.
Ahaa gimana lumayan ribet kan tuh ceritanya, kalo misalnya Yeon Woo akhirnya sama Hwon berarti dia bakal jadi selir dong (selir kesayangan, ntar jadinya sama kayak selir sukwon di Dongyi), terus aku berharapnya Woon sama Seol (kalo berantem langsung pakai pedang dan kalo pacaran nunggu Hwon-Yeonwoo barengan hahahaha) dan Yang Myung sama Janshil (gadis peramal yang pernah ia tolong heheehehe). Mudah-mudahan rating drama ini akan terus semakin menanjak, dan dapat menyabet banyak penghargaan di ajang MBC Drama Award penghujung tahun nanti. Amin.